Congratulations America!
Seperti kita ketahui bersama, beberapa hari yang lalu Amerika telah memilih presidennya. Selamat untuk Barack Obama atas terpilihnya beliau sebagai presiden Amerika Serikat menggantikan George W. Bush.
Sudah menjadi "konsensus" bahwa kebanyakan warga Indonesia, termasuk gw, cenderung menyukai Obama ketimbang pesaingnya dari partai Republik, John McCain. Sudah umum pula alasannya cenderung emosional, karena beliau "bukan 100% bule", "bukan penerus Bush", "multi-kultural" dan pernah menghabiskan masa kecil di Indonesia. Tentu saja, terlepas dari alasan-alasan emosional tadi, beliau memang seorang president-material.
Yang menarik lagi, McCain secara kesatria mengakui kekalahannya dan bahkan memberikan dukungan kepada Obama. KOMPAS hari ini sempat menyindir elit politik kita untuk meniru sikap legowo McCain. It begs me two questions: Separah itukah kita? Mengapa?
Soal parah, ya memang parah. Gw pernah membaca berita tentang mantan presiden kita yang "berkampanye diam-diam" di suatu daerah. Ketika penduduk disitu berkeluh kesah, beliau malah menjawab (kurang lebih), "Salah sendiri kenapa ga pilih saya." What the f*ck? Jawaban tolol macam apa itu! Kemana aja dia waktu jadi presiden?
Soal alasannya, terus terang gw ga tau. Mungkin sistem pemilihan kita integritasnya diragukan, sehingga "kalah" bukan berarti "tidak menang", tetapi "sesajennya/sogokannya kurang". Kalau demikian, kenapa ga memperbaiki sistemnya? Well, sistem yang korup bisa jadi menguntungkan untuk beberapa orang. A system without integrity can be easily bought.