Looking for my "geek side" instead?

Saturday, November 07, 2009

Gw vs Nyamuk (ga penting)

Beberapa hari ini kamar gw banyak banget nyamuknya. Gw udah setel AC ke 18 Celcius, mereka tetap aja santai bermanuver di udara. Justru gw yang kedinginan dan bolak-balik ke toilet.

Gw mendadak autis kalau sedang bekerja, tapi nyamuk-nyamuk kurang ajar itu sungguh membuat gw sulit berkonsentrasi. Biasanya gw meneplak(?) nyamuk yang beterbangan dekat gw atau yang sedang landing di kulit gw. Nah, dua hari kemarin, just for fun, I decided to collect their dead bodies and sort them (so I can count them).

Yah, kadang gw suka melakukan hal-hal yang ga penting, seperti sekarang ini. Berikut ini bukti kekejaman gw:



Exhibit 1

Seperti terlihat di Exhibit 1, ada 26 nyamuk yang menjadi korban keganasan gw. Ini dalam waktu kurang dari satu jam (dan gw ga mencari mereka, hanya duduk sambil bekerja)! Bisa saudara bayangkan betapa masifnya invasi nyamuk di kamar gw!

Besoknya, gw iseng nyemprot kamar gw. Sejam kemudian gw kembali dan mengumpulkan mayat-mayat yang bergelimpangan. Penasaran aja gw, berapa banyak sih yang gugur. Berikut ini hasilnya:



Exhibit 2

Tiga puluh dua nyamuk! Dan gw belum mencari ke sudut-sudut, what a record! Gw penasaran, ada ga ya orang yang iseng seperti ini? Bagaimana dengan kamu?

Tuesday, November 03, 2009

Bidadari malam dan pikiran menjurus

Tadi malam, gw dan beberapa kolega di kantor lama gw bergadang melakukan migrasi sistem interkoneksi SMS untuk salah satu operator di Indonesia. Gw tiba di kantor sekitar jam 8 malam dan keluar kantor sekitar jam 12 siang keesokan harinya (which is today). Sungguh, gw capek banget. Oh ya, posting ini murni curhat. Kalau kalian keberatan dengan gw ngalor ngidul dan whining kayak banci, feel free to skip this post :)

Seperti kebanyakan kuli komputer, gw terbiasa bekerja malam. Lebih dingin, lebih tenang, pokoknya lebih afdol. Tapi kali ini kami bekerja malam bukan karena kerajinan, tapi karena pihak operator menghendaki demikian, karena traffic SMS di malam hari jauh lebih sedikit.

Dan biasanya, dingin-dingin dan malam-malam lebih mantab kalo ditemani cewek cantik. Apalagi kalau sang bidadari menunjukkan perhatian dengan menanyakan kabar. Wuih, wenak tenan! Dan biasanya saat seperti itu muncul pikiran-pikiran menjurus. Bukan jurus Kungfu atau Silat, tapi menjurus ke Sekwilda dan zona terlarang lain.

Kalau gayung bersambut, ya bagus. Otak jadi memanas, kerja jadi semangat. Seperti lokomotif tua yang dicecoki batu bara kualitas wahid, jadi jos jos jos! Tapi kalau sang bidadari tersinggung, waduh keadaan sungguh runyam. Ini namanya miscommunication.

Lho, opo iki? Katanya di kantor, kok ada bidadari segala? Kan gw bilang posting-an ini ngalor ngidul :)

Itu sebabnya kita butuh seseorang yang menerima kita apa adanya. Ada saatnya kita menjadi good guy, ada saatnya kita menjadi smart guy, dan ada saatnya kita naughty naughty bitchy bitchy. "Sédéng" guy. We can't be perfect at all times right?

I really need to get some sleep.

Monday, November 02, 2009

Emosi dan produktivitas

Udah nonton Star Trek? Gw baru nonton kemarin di DVD :D Filmnya bagus, dan ga seperti film Hollywood pada umumnya, kisah asmara yang ditonjolkan justru bukan mengenai tokoh utamanya (Capt. Kirk), tapi mengenai seorang Vulcan bernama Spock.

Vulcan digambarkan sebagai spesies humanoid (mirip manusia) yang dikenal mengutamakan logika dan reasoning. Sebenarnya mereka makhluk yang sangat emosional (catatan: "emosi" bukan hanya "marah"), namun karena emosi mereka sering merugikan, sejak kecil mereka dilatih untuk "memadamkannya".

Pada dasarnya gw juga mudah terbawa emosi. Wajah gw seperti cermin hati gw. Kalau lagi sedih, kelihatan. Kalau lagi kesal, kelihatan. Jadi kalau sedang jalan sama cewek dan wajah gw terlihat ceria berarti gw sedang senang banget :)

Ga hanya itu. Suasana hati gw juga berpengaruh terhadap kinerja gw. Baru-baru ini gw ditanya, "Tumben sekarang lo rajin nulis blog. Ada apa nih?" Hoho, jelas ada udang dibalik batu :)

Sayangnya kisah cinta gw kebanyakan ga berjalan baik. Gw agak mudah cemburu. Akibatnya kinerja gw ikut-ikutan "so-so". Saat ini, alternatif yang gw pilih adalah mencintai bidadari. Gw ga bisa memiliki bidadari, sehingga ga (bisa) cemburu. Dan seorang bidadari selalu menjaga hati gw. Oh ya, bidadari itu nyata lho ;-)

Mungkin, pada akhirnya, gw akan menemukan solusi terbaik untuk masalah ini. Mungkin gw bisa seperti Vulcan yang melatih emosi lewat meditasi. Tapi sementara itu, bercumbu dengan bidadari adalah pilihan yang produktif, mutual dan menyenangkan :)

Friday, October 30, 2009

Keluar dari zona aman

Di status Facebook gw pernah menulis bahwa Stardust adalah salah satu film favorit gw. Selain Stardust, gw juga suka Jumper, trilogi Bourne dan trilogi Lord of The Rings. Apa yang menjadikan mereka favorit gw? Mereka film petualangan. Tapi lebih dari itu, mereka mengajarkan gw untuk berani keluar dari zona aman untuk meraih sukses.

Keluar dari zona aman. Kadang istilah ini harus diartikan secara harafiah: keluar dari tempat kita biasa tinggal. Gw pernah baca di suatu buku, "Bagaimana cara menjadi sukses? Pergilah merantau."

Semua presiden kita bukan orang Jakarta namun mereka bekerja di Jakarta. Mantan Gubernur Sutiyoso pun ga lahir di Jakarta. Kedua orang tua gw bukan orang Jakarta, namun mereka bisa membeli rumah setelah bekerja di Jakarta. Gw yakin banyak pembaca blog gw yang orang tuanya ga dari Jakarta, tapi bekerja di Jakarta. Kebanyakan menjadi sukses, paling ga lebih baik dibanding kondisi sebelumnya. Lalu kemana orang-orang kelahiran Jakarta seperti gw harus pergi agar sukses?

Waktu kecil gw bercita-cita menjadi astronot, gw ingin menjelajahi alam semesta. Saat sekolah gw ingin menjadi diplomat, gw ingin menjelajahi dunia. Eh kok kuliahnya jurusan IT, akhirnya mentok menjelajahi kompleks perumahan :) Memang cinta (terhadap komputer) membutakan segalanya :D

Gw ingin seperti Tristan Thorn dalam Stardust yang mengelilingi dunia dan kembali sukses. Awalnya memang "terpaksa", tapi ujung-ujungnya membahagiakan. Bertemu banyak orang, mendapat banyak pengalaman... dan menemukan cinta? Mungkin yang terakhir ga perlu. Gw masih memilih cewek sebangsa untuk urusan itu. Mungkin seseorang seperti 7 di film 9 :)


Wednesday, October 28, 2009

Hari Pemuda. Lalu?

Apa saja aktivitasmu di Hari Pemuda ini? Kalau gw, bangun kesiangan, mampir ke website bokep, membantu teman menyusun skripsi, melanjutkan coding sebuah project kecil, membalas beberapa email dan mengirim invoice. Yeah, so lame. Semoga aktivitas kalian lebih baik.

Gw membayangkan, 81 tahun yang lalu pemuda-pemudi sebaya gw sibuk mengadakan rapat akbar. Mereka dengan semangat mengumandangkan Sumpah Pemuda. Sementara disini gw bingung apakah Sumpah Pocong masih diputar di bioskop.

Nasionalisme. Kata yang usang. Menjadi usang karena banyak orang yang skeptis terhadap negeri ini. Menjadi semakin usang pula karena mereka yang diskeptisi (halo pejabat!) pura-pura ga sadar dirinya diskeptisi.

Ambil contoh kasus KPK. Kalau mau jujur, mayoritas penduduk Indonesia mendukung banget keberadaan dan operasi lembaga negara itu. Sisanya yang ga mendukung karena ga peduli, ga tau atau familinya (atau dia sendiri!) beresiko dijaring KPK. Kalau semua manusia baik mendukung pemusnahan korupsi dari negeri tercinta ini, mengapa membiarkan KPK dijadikan bual-bualan? Mungkin karena ga semua manusia baik :)

Awalnya gw sangat antusias mengikuti sepak terjang KPK. Setiap membaca KOMPAS, pasti gw cari kisah KPK yang menangkap anu dan anu. Mirip film action Hollywood. Tapi sekarang? Film Bollywood jadul yang orang-orangnya item dan berbulu aja masih lebih enak dilihat.

To be honest, my faith for a better nation is starting to diminish. Gw ga tau harus percaya siapa lagi dalam perang David melawan Goliath ini. I'm skeptical. Dan biasanya lama-lama akan muncul ignorance.

Hmm.. tapi gw akan membiarkan sebuah lilin kecil menyala di sudut hati gw. Just in case. Berharap baik boleh kan? :)

Cowok harus tau jalan

Semua orang yang kenal gw dengan baik pasti tau gw orang rumahan. "Ngapain keluar kalau bisa pacaran di rumah?" "Ngapain kerja kantoran kalau bisa kerja di rumah?" "Ngapain ke toko buku kalau ada Google (yang bisa dibuka dari rumah)?"

Bahkan kalau terpaksa keluar, gw lebih memilih naik kendaraan umum. Ga perlu merayu mama untuk pinjam mobil, ga perlu keluar seratus ribu untuk bensin, bisa tidur pula! Sikap gw tentu membuat cewek agak ilfil saat dating sama gw. Entah kenapa mereka lebih memilih diantar-jemput, padahal biasanya juga bisa pergi sendiri (entah dengan kendaraan umum atau kendaraan pribadi)! Dasar cewek.

Untungnya gw agak autis. Kalo mereka ogah pergi ya wis. Jadi bisa santai dirumah kan :D Tapi kadang gw benar-benar harus pergi bawa kendaraan. Dan saat itu biasanya gw kelabakan: gw ga hapal jalan dan ga pakai kacamata sehingga marka jalan sering ga kelihatan!

Gw pernah nunggu lampu merah hampir sepuluh menit, dan baru sadar ternyata memang ga boleh belok (tulisannya ga terbaca). Gw juga sering nelpon rumah/teman hanya untuk bertanya, "Depan gw ada belokan itu kemana ya?" Paling bodohnya, gw pernah berhenti di tengah jalan bypass karena ragu-ragu, "Yang masuk tol sebelah kiri atau kanan ya?"

Tapi yang membuat gw kapok adalah kejadian hari ini. Pulang dari London School gw membawa mobil dengan indikator bensin sudah ke E (Empty). Karena saat itu Three-in-One, gw harus lewat rute Karet-Casablanca untuk ke Bekasi. Guess what, ternyata ga ada pom bensin selama di jalan! Terpaksa gw matiin AC, padahal lumayan macet. Keringetan, deg-degan takut mogok. Benar-benar Fear Factor (dan bodoh). Untungnya jauuuh kemudian di Cipinang ada pom bensin. Selesai isi bensin gw langsung setel AC paling dingin sambil nyanyi-nyanyi (setelah itu gw kebelet pipis karena kedinginan).

Ternyata kata teman gw, pom bensinnya sebenarnya ada, tapi harus keluar rute sedikit. Coba kalau gw tau jalan, ga perlu konyol seperti tadi.

Pesan moral: Kalau melihat gw naik mobil dan ga pakai kacamata, jangan dekat-dekat.

Tuesday, October 27, 2009

Mamaku mengajarkanku tentang cewek dan kehidupan

Lebih tepatnya: Mamaku mengajarkanku bagaimana memahami wanita dan kehidupan, tapi ga secara langsung. Begini ceritanya.

Mama gw adalah mama yang cerewet. SANGAT cerewet. Belum lagi keras kepala, udah salah tetep ngotot. Suka "bohong demi kebaikan" juga, khususnya soal makanan. Seperti bilang sayurnya enak padahal rasanya pahit (tapi memang sehat). Mama gw juga payah soal keuangan. Beliau ga mau ribet. Akibatnya gw yang sekarang pencari nafkah utama sering kebakaran jenggot karena penggunaan duit "negara" ga sesuai APBN.

Ketika gw mengadu ke papa, beliau dengan bijaknya berkata, "Kalau kamu bisa mengatasi mama, kamu bakal jadi orang sukses." Ya iya lah, cobaan yang gw terima lebih dasyat dari gemblengan Kawah Candradimuka!

Tapi papa benar juga. Lama-lama gw mulai ga stres. Apakah karena mama berhenti cerewet? Tentu tidak :) Tapi gw mulai mengikuti ritme mama, semua dibawa enak (baca: cuek). Herannya, seiring dengan semakin sabarnya gw, "panca indra" gw terhadap cewek juga meningkat. Susah dijelaskan, tapi intinya cewek macam apa pun yang berinteraksi dengan gw, gw langsung tau, "Dia seperti ini. Cara berkomunikasi yang efektif dengan dia adalah begini." Tentu gw menggunakan kelebihan ini untuk tujuan baik :P

Apa tipsnya? Gw sering kebawa emosi juga kok. Tapi gw segera ingat I truly love this old lady and her actions are sincere. Biasanya langsung reda. Tapi ga jarang juga gw ikutan teriak, saat itu artinya perang dunia :D

Jadi, lain kali, kalau mama kalian cerewet, anggap aja sedang nonton sinetron :)

Anak-anak pembersih kuburan

Beberapa hari yang lalu gw dan orang tua nyekar ke makam oma dan opa, lumayan dekat rumah. Seperti biasa, begitu kami mendekat ke makam, anak-anak yang sedang nongkrong dekat situ langsung rajin mendadak berusaha membersihkan makam oma+opa (mereka sepiring berdua, eh, semakam). Seperti biasa pula, mama langsung 'mengusir' mereka (hehe). Tapi melihat makam yang agak berantakan, papa akhirnya membiarkan mereka membersihkan.

Disinilah menariknya. Ada seorang anak yang sungguh-sungguh merapikan rumput. Ada anak yang merapikan tapi pakai gunting kertas (WTF???). Ada anak yang keliatannya bersemangat tapi ga ada ide mau ngapain. Ada anak yang sekedar pelengkap penderita alias pura-pura sibuk. Ada juga yang pura-pura menggunting tapi matanya melirik tangan gw yang sedang menghitung uang (untuk dikasih ke mereka).

Papa gw jelas mengomel (tapi bukan ke mereka). "Lihat tuh yang matanya ngeliatin uang. Kerja belum benar sudah menunggu dibayar. Gimana nanti kalau sudah gede." Sementara itu papa memuji (masih ngobrol ke gw) si anak yang sungguh-sungguh bekerja.

Bagaimana upah mereka? Awalnya gw ingin membagi rata, namun akhirnya gw kasih semua ke anak rajin itu (kebetulan dia paling besar), "Ini untuk kalian. Kamu yang bagi. Terserah kamu mau kasih berapa teman-temanmu. Kamu ga kasih juga gapapa, toh yang kerja kamu."

Di dalam mobil, papa bilang, "Lain kali kita pakai yang rajin itu aja."

Moral ceritanya cukup jelas kan?

Monday, August 17, 2009

Refleksi 17 Agustus

Ini bukan "refleksi bangsa kita di hari kemerdekaan". Orang-orang telah menceritakannya di televisi dan surat kabar, dan mereka melakukannya dengan baik. Ini adalah refleksi gw, seorang Thomas Wiradikusuma, karena ga ada yang lebih mengenal diri gw selain gw sendiri.

Ketika diundang jamuan makan oleh pejabat Google, yang juga dihadiri beberapa tokoh IT tanah air, gw dengan senang hati menceritakan kebenaran (kebanyakan kebobrokan) infrastruktur IT kita. Keliatannya ga ada yang salah dengan ini, kecuali kenyataan bahwa gw mengumbar kepayahan bangsa sendiri demi makan siang gratis di JW Marriott.

Gw dan teman-teman gw terbiasa melecehkan produk/merk lokal (termasuk karya seni). In my defense, kebanyakan produk lokal (terutama elektronik seperti laptop dan handphone) memang sebenarnya bukan buatan lokal. Kebanyakan hanya rebranding atau paling jauh merakit disini namun komponennya 90% impor.

Gw juga terbiasa menggunakan Bahasa Inggris dalam menulis blog, dokumentasi, proposal atau presentasi. Gw bahkan mencoret-coret di kertas atau papan tulis menggunakan Bahasa Inggris.

Yang terakhir dan yang paling parah, gw begitu ga peduli dengan pejabat-pejabat di pemerintahan kita. Bagi gw, mereka hanya "aji mumpung". Gw sampai berpikir, "Kalau gw nanti jadi pejabat, gw juga kayak mereka ah. Everybody does that."

Apakah gw telah kehilangan identitas gw sebagai seorang putra Indonesia?

Monday, June 29, 2009

Creative industry is wider than you think


Gw jarang nonton TV dan baca koran, tapi belakangan ini gw rajin baca KOMPAS setiap pagi (sebenarnya supaya gw ga bobo lagi). Seperti biasa, gw sok tau menganalisa tren (which is flawed since you can't analyze trend just by seeing recent activities). Kali ini gw melihat kecenderungan "the rise of creative industry".

Media massa memberitakan bahwa industri kreatif sanggup bertahan di masa resesi global ini. Industri kerajinan mendapat sorotan sebagai the silver bullet untuk bangkit dari resesi. For your information, baru-baru ini ada pameran industri kerajinan yang sayangnya gw lewatkan karena lebih memilih nonton Transformers 2 (yes, I'm childish).

Batik, kerajinan tangan, musik dan rumah produksi (production house—PH) adalah kategori(?) yang paling sering disebut sebagai industri kreatif. Sebenarnya industri kreatif lebih luas dari itu. To some extend, IT (Information Technology) is a creative industry.

Selain menjual diri dan menipu orang lain, ga banyak bisnis yang bisa dilakukan dengan modal "just myself". IT, khususnya perangkat lunak (aplikasi, website, animasi, desain grafis), memungkinkan kita untuk berusaha dengan modal minimal. Dengan asumsi kamu punya komputer layak pakai dan mungkin koneksi internet, kamu bisa dibilang memiliki modal untuk memulai.

Sayangnya, mungkin karena kemampuannya untuk mulai tanpa modal itu, pemerintah (we pay taxes to blame them right?) ga begitu tertarik mendukung industri IT yang low entry high return ini. Well, mungkin mereka justru berpikir "IT kan mahal, pasti butuh modal besar". Atau mungkin mereka ga tau soal "murahnya memodali industri IT". Atau mungkin mereka ga peduli.

Kadang gw iri melihat teman-teman gw yang tinggal di luar negeri. Mereka relatif mudah membangun startup company dengan dukungan dana dari Venture Capitalist. Di Indonesia, permodalan hanya dari bank atau papa/mama/paman/bibi.

Ini sangat disayangkan, padahal dengan modal relatif kecil (<50jt) Google, Amazon, Facebook, YouTube dan Twitter asli buatan putra putri Indonesia.

Note: For the record, gw dan beberapa teman sedang membuat startup dengan modal sendiri. It's for fun, but we never know what will happen next..