Looking for my "geek side" instead?

Saturday, November 21, 2009

Thomas yang lebih baik

Apa yang memotivasi kita bekerja? Jawabannya mungkin ada pada Hierarchy of Human Needs dari Abraham Maslow. Alasan pertama adalah fisiologis: agar bisa makan enak dan tinggal di tempat yang nyaman, dan dapat tidur dengan nyenyak. Setelah diri sendiri aman, umumnya orang mulai memikirkan keluarga, pertemanan dan romantisme.

Berdasarkan teori Maslow pula, semakin terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan di atas, manusia mulai memikirkan esteem dan self-actualization. Mereka ingin dihargai, mencapai prestasi, dan mulai memikirkan dunia secara menyeluruh.

Idealnya, semakin naik ke atas tentu semakin baik. Namun seperti halnya naik ke gunung yang tinggi, meniti piramida Maslow juga penuh dengan cobaan. Kadang, kita terlalu asyik melihat ke atas sehingga ga sadar bagian bawah kita mulai keropos.

Kita asyik mengejar yang kita inginkan namun melupakan yang udah kita punya. Kita punya uang banyak tapi ga bisa makan enak karena darah tinggi, ga bisa tidur nyenyak karena merasa was-was, dan menelantarkan keluarga—padahal merekalah alasan kita habis-habisan memeras keringat.

Gw menulis ini untuk mengingatkan diri gw sendiri, karena gw akan merantau. Salah satu alasan gw merantau tentu karena rumput tetangga lebih hijau. Alasan lainnya? Hmm... mungkin dengan gw pergi, gw bisa memulai hidup baru. Memulai dari kertas kosong.

Waktu SD, teman-teman gw mengenal gw sebagai Tukang Gambar. Gw hampir ga pernah dapat nilai di bawah delapan setiap pelajaran Menggambar. Gw juga ingat, saat itu pertama kalinya gw menyentuh tangan cewek yang gw suka, gw berkeringat dingin (beneran), padahal itu lagi rame-ramean sehingga mungkin si cewek ga sadar kalo gw pegang tangannya. Ceritanya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan tuh, hehe..

Waktu SMP, teman-teman gw mengenal gw sebagai Tukang Komputer. Gw berlangganan Internet sejak kelas 2 SMP, dan sejak itu hidup gw rusak, hehe.. Anyway, meski udah dapat pencerahan dari Internet soal pria-wanita, gw masih ingat betapa gw sering mandi keringat setiap nelpon cewek yang gw suka. Pokoknya katro banget!

Waktu SMA, teman-teman gw mengenal gw sebagai Tukang Gitar. Bukan tukang benerin gitar, tapi tukang main gitar. Seperti umumnya cowok-cowok berseragam putih abu-abu, gw suka nge-band. Saat SMA juga gw pertama kalinya benar-benar pacaran. OK, actually ini pacaran keempat gw, tapi tiga sebelumnya hanya "status" tanpa actually do anything significant.

Waktu kuliah, teman-teman mengenal gw sebagai.. well, actually, gw ga dikenal. Gw orang desa masuk kota. Suddenly I felt nobody. Di kampus, selalu ada orang yang lebih kaya, lebih ganteng, lebih menyenangkan untuk diajak bicara, lebih cerdas. Kalau pun ada hal yang gw syukuri sewaktu kuliah, itu adalah pertama kalinya gw mengenal "the real world".

Menjelang skripsi, sebagian besar teman-teman gw mulai bekerja. Gw panik. Gw "kecurian start" dan kuatir "ga kebagian kue". David Limanus, seorang teman baik gw di kampus, berkata, "Lo tuh kayak kupu-kupu Thom. Sekarang lo masih dalam kepompong dan telat keluarnya. Tapi begitu keluar dari kepompong, lo akan menjadi kupu-kupu yang warnanya bagus banget, Full Color deh!"

Sekarang gw udah bekerja. Dan gw ingin merantau untuk menjadi lebih baik lagi. Mungkin karena gw mengikuti piramida Maslow. Mungkin karena keluarga gw begitu mengandalkan gw sebagai pencari nafkah. Mungkin karena gw ga menemukan yang gw cari disini. Mungkin karena sebagai kupu-kupu, gw ingin terbang tinggi untuk melihat dunia yang luas..


Sunday, November 15, 2009

Gelas setengah kosong.. atau setengah penuh?

Ada satu gelas terisi air setengah, dilihat oleh dua orang yang berbeda. Yang satu memandang, "Wah, masih kurang setengah nih," sementara yang lain berpendapat, "Masih ada setengah kok." Mana yang benar? Dua-duanya. Bedanya? Orang yang terakhir memandangnya secara positif.

Anggaplah seorang teman sedang marahan sama gw. Kalau dia memandang gw setengah kosong, apapun yang gw lakukan pasti salah, meski niat gw baik. Apa yang bisa gw lakukan? Well, mungkin gw bisa mengambil obeng dan membuka kepalanya untuk mengubah pola pikirnya. Or maybe not.

OK, seorang teman memang sedang marahan sama gw dan sekarang diem-dieman. Apa yang gw lakukan? Currently I do nothing. Gw ga berusaha berpura-pura "semua baik-baik aja", karena kenyataannya memang "ga baik" dan makin lama itu terlihat manipulatif (which is not true, tapi ini persepsi yang muncul ketika seseorang memandangmu setengah kosong). Gw juga ga mendiskusikannya karena kuatir memperkeruh suasana.

Jika kalian mengalami hal seperti ini, having a problem with someone you care, tunjukkan blog ini ke dia agar dia tau bahwa kalian ingin berdamai namun ga tau caranya. I think I will do that too.

Btw, gw dapat ini dari Internet (repost sih), beda cowok cakep sama cowok jelek:

Kalau cowok ganteng berbuat jahat
Cewek-cewek bilang: nobody's perfect

Kalau cowok jelek berbuat jahat
Cewek-cewek bilang: pantes... tampangnya kriminal

Kalau cowok ganteng menolong cewek yang diganggu preman
Cewek-cewek bilang: wuih jantan... kayak di film

Kalau cowok jelek menolong cewek yang diganggu preman
Cewek-cewek bilang: pasti premannya temennya dia

Kalau cowok ganteng pendiam
Cewek-cewek bilang: wow, cool banget...

Kalau cowok jelek pendiam
Cewek-cewek bilang: ih kuper...

Kalau cowok ganteng jomblo
Cewek-cewek bilang: pasti dia perfeksionis

Kalau cowok jelek jomblo
Cewek-cewek bilang: sudah jelas... ga laku

Kalau cowok ganteng dapat cewek cantik
Cewek-cewek bilang: klop... serasi banget

Kalau cowok jelek dapat cewek cantik
Cewek-cewek bilang: pasti main dukun atau ceweknya matre

Kalau cowok ganteng diputusin cewek
Cewek-cewek bilang: jangan sedih, khan masih ada aku...

Kalau cowok jelek diputusin cewek
Cewek-cewek bilang: (terdiam, tapi telunjuknya meliuk-liuk dari atas ke bawah, liat dulu dong bentuknya)

Kalau cowok ganteng ngaku indo
Cewek-cewek bilang: emang mirip-mirip bule sih

Kalau cowok jelek ngaku indo
Cewek-cewek bilang: pasti ibunya Jawa bapaknya robot

Kalau cowok ganteng penyayang binatang
Cewek-cewek bilang: perasaannya halus... penuh cinta kasih

Kalau cowok jelek penyayang binatang
Cewek-cewek bilang: sesama keluarga emang harus menyayangi

Kalau cowok ganteng bawa BMW
Cewek-cewek bilang: matching... keren luar dalam

Kalau cowok jelek bawa BMW
Cewek-cewek bilang: mas majikannya mana?

Kalau cowok ganteng males difoto
Cewek-cewek bilang: pasti takut fotonya kesebar-sebar

Kalau cowok jelek males difoto
Cewek-cewek bilang: nggak tega ngeliat hasil cetakannya ya?

Cwok ganteng naek motor gede
Cewek-cewek bilang: wah kayak Lorenzo Lamas di film Renegade, bikin lemas...

Kalau cowok jelek naek motor gede
Cewek-cewek bilang: awas! Mandragade lewat...

Kalau cowok ganteng nuangin air ke gelas cewek
Cewek-cewek bilang: ini baru cowok gentleman

Kalau cowok jelek nuangin air ke gelas cewek
Cewek-cewek bilang: naluri pembantu emang gitu

Kalau cowok ganteng bersedih hati
Cewek-cewek bilang: let me be your shoulder to cry on

Kalau cowok jelek bersedih hati
Cewek-cewek bilang: cengeng amat! laki-laki bukan sih?

Kalau cowok ganteng baca tulisan ini
tersenyum-senyum kecil lalu berkata "life is beautiful"

Kalau cowok jelek baca tulisan ini
frustasi, ngambil tali jemuran, trus teriak sekeras-kerasnya "HIDUP INI KEJAAAMMM...!!!"

Saturday, November 14, 2009

Dongeng itu.. hanya dongeng :)



Let me tell you a secret (setelah gw cerita ini, berarti ga secret lagi dong ya?). Waktu SD, gw pernah membaca dongeng berjudul Sleeping Beauty (Putri Tidur). Pernah mendengar? Ceritanya tentang seorang putri yang dikutuk penyihir sehingga tertidur ratusan tahun, sampai akhirnya dibangunkan lewat ciuman seorang pangeran.

Katro banget ya? Ga masuk akal pula. (Ratusan tahun dan tetap cantik? Please.) Yah, namanya juga dongeng. Tapi kisah Sang Pangeran dan Sang Putri itu membentuk karakter gw sampai SMP, dan secara subconscious sampai sekarang.

Dan karena bukunya bergambar, gw bisa melihat betapa cantiknya Sang Putri, dan sepertinya itu membentuk "kriteria" gw dalam memilih cewek. Gw suka cewek yang rambutnya bergelombang, beralis tebal seperti bulan sabit, bermata besar dan berpakaian anggun. Yeah, that princess was my first love.

Dan Sang Pangeran menjadi role model gw. Ganteng, atletis, dan karena bisa membangunkan seorang putri dengan ciumannya, he must be a good kisser. Ini membuat gw hidup dengan asumsi, "Gw harus seperti seorang pangeran, yang menjadi knight in shinning armor bagi wanita idaman gw." Huam... gw mulai ngantuk. Prett!!! Pangeran my ass.

Dunia nyata sama sekali berbeda dengan yang di buku. Putri-putri cantik sibuk "mengobral" dirinya, atau sebaliknya, bersikap sok ga butuh. Pangeran-pangeran ganteng menggunakan kelebihannya untuk mempermainkan perasaan cewek. Ga heran film Shrek laku keras, orang-orang muak dengan putri cantik yang sombong (atau justru murahan) dan pangeran yang brengsek.

Konyolnya, gw kadang masih terbius dengan sentimen "dongeng" ini. Seperti kata penelitian yang pernah gw baca, cowok sulit berpikir jernih kalau berurusan dengan cewek cantik. Disadari atau ga, ketika berhadapan dengan cewek yang atraktif, cowok sibuk membuat dirinya terlihat menarik dan melupakan hal lain yang sebenarnya lebih penting. Untungnya gw pelit, hehe, jadi ada safety net-nya dalam mengeluarkan duit. Gw juga seorang geek yang gila kerja.

Anyway, gw menulis ini untuk mengingatkan diri sendiri untuk ga terlalu mengikuti perasaan.

Kalau ada cewek yang over excited dengan kamu, ya jangan terbawa-bawa. Nanti malah ceweknya yang bosan.

Kalau ada cewek yang under excited (misalnya pikirannya sedang galau) dengan kamu, ya ga usah sok repot. Kalau dia benar-benar sayang, pasti dia akan membuka dirinya sendiri pada akhirnya. Kalau justru ditinggaln? Ya berarti dia ga sayang kamu :)

Welcome to the real world :)

Friday, November 13, 2009

Berbagi susah



Apa ini, susah kok dibagi-bagi? Hehe, ini cerita tentang teman gw. Gw punya seorang teman, secara fisik dia menarik, secara ekonomi sangat berkecukupan, cerdas, supel, pokoknya komplit deh. Oh ya, dia juga sudah punya peliharaan (beberapa kebudayaan menyebutnya: pasangan).

Dia sangat mandiri, malah agak sedikit "ini cara gw, ikuti gw atau stay away." Dari luar dia juga terlihat selalu ceria. But I know her quite well that I know, deep inside, she is fragile. (Kaum feminis akan protes: Lo pikir semua cewek rapuh! Jawaban gw: Shut up and continue reading.)

Sayangnya dia sangat tertutup untuk membicarakan masalahnya. Semua disimpan sendiri. Gw jadi simpati sama dia (meski gw pakai Matrix, ga nyambung ya?). Ember aja kalau diisi air terus lama kelamaan akan tumpah (bener kan? embeeerrrr!). Dalam perancangan software, terlalu banyak menyimpan data di session juga menyulitkan scalability. Anjing tetangga gw kemarin mati gara-gara bengong (ini ga nyambung).

At least, di dunia ini pasti ada 1-2 orang yang sangat kita percayai. Jika kalian bilang "Ga ada" berarti kalian bajingan banget (sehingga selalu curiga orang lain akan gantian menjahati kalian) atau ga serius menemukan "orang kepercayaan" itu. Orang itu bisa pasangan kita, orang tua kita, saudara kita, sahabat kita, bahkan (kalau kepepet) orang yang memang dibayar untuk itu (psikiater?).

Dan ketika kita menemukan orang itu, for heaven's sake, buang deh sampah-sampah di pikiranmu ke dia! Dia mungkin ga bisa membantu apa-apa, but at least dia sudah jadi tempat berbagi susah! To be frank, kadang yang kita butuhkan memang itu: sahabat dengan sepasang telinga yang baik (dan mulut yang diplester).

Sampah aja lama-kelamaan bisa busuk kalau dibiarkan, apalagi pikiran kita yang buruk-buruk. Very bad for your health. Not good. Don't let it corrupt your body and soul.

Saturday, November 07, 2009

Gw vs Nyamuk (ga penting)

Beberapa hari ini kamar gw banyak banget nyamuknya. Gw udah setel AC ke 18 Celcius, mereka tetap aja santai bermanuver di udara. Justru gw yang kedinginan dan bolak-balik ke toilet.

Gw mendadak autis kalau sedang bekerja, tapi nyamuk-nyamuk kurang ajar itu sungguh membuat gw sulit berkonsentrasi. Biasanya gw meneplak(?) nyamuk yang beterbangan dekat gw atau yang sedang landing di kulit gw. Nah, dua hari kemarin, just for fun, I decided to collect their dead bodies and sort them (so I can count them).

Yah, kadang gw suka melakukan hal-hal yang ga penting, seperti sekarang ini. Berikut ini bukti kekejaman gw:



Exhibit 1

Seperti terlihat di Exhibit 1, ada 26 nyamuk yang menjadi korban keganasan gw. Ini dalam waktu kurang dari satu jam (dan gw ga mencari mereka, hanya duduk sambil bekerja)! Bisa saudara bayangkan betapa masifnya invasi nyamuk di kamar gw!

Besoknya, gw iseng nyemprot kamar gw. Sejam kemudian gw kembali dan mengumpulkan mayat-mayat yang bergelimpangan. Penasaran aja gw, berapa banyak sih yang gugur. Berikut ini hasilnya:



Exhibit 2

Tiga puluh dua nyamuk! Dan gw belum mencari ke sudut-sudut, what a record! Gw penasaran, ada ga ya orang yang iseng seperti ini? Bagaimana dengan kamu?

Tuesday, November 03, 2009

Bidadari malam dan pikiran menjurus

Tadi malam, gw dan beberapa kolega di kantor lama gw bergadang melakukan migrasi sistem interkoneksi SMS untuk salah satu operator di Indonesia. Gw tiba di kantor sekitar jam 8 malam dan keluar kantor sekitar jam 12 siang keesokan harinya (which is today). Sungguh, gw capek banget. Oh ya, posting ini murni curhat. Kalau kalian keberatan dengan gw ngalor ngidul dan whining kayak banci, feel free to skip this post :)

Seperti kebanyakan kuli komputer, gw terbiasa bekerja malam. Lebih dingin, lebih tenang, pokoknya lebih afdol. Tapi kali ini kami bekerja malam bukan karena kerajinan, tapi karena pihak operator menghendaki demikian, karena traffic SMS di malam hari jauh lebih sedikit.

Dan biasanya, dingin-dingin dan malam-malam lebih mantab kalo ditemani cewek cantik. Apalagi kalau sang bidadari menunjukkan perhatian dengan menanyakan kabar. Wuih, wenak tenan! Dan biasanya saat seperti itu muncul pikiran-pikiran menjurus. Bukan jurus Kungfu atau Silat, tapi menjurus ke Sekwilda dan zona terlarang lain.

Kalau gayung bersambut, ya bagus. Otak jadi memanas, kerja jadi semangat. Seperti lokomotif tua yang dicecoki batu bara kualitas wahid, jadi jos jos jos! Tapi kalau sang bidadari tersinggung, waduh keadaan sungguh runyam. Ini namanya miscommunication.

Lho, opo iki? Katanya di kantor, kok ada bidadari segala? Kan gw bilang posting-an ini ngalor ngidul :)

Itu sebabnya kita butuh seseorang yang menerima kita apa adanya. Ada saatnya kita menjadi good guy, ada saatnya kita menjadi smart guy, dan ada saatnya kita naughty naughty bitchy bitchy. "Sédéng" guy. We can't be perfect at all times right?

I really need to get some sleep.

Monday, November 02, 2009

Emosi dan produktivitas

Udah nonton Star Trek? Gw baru nonton kemarin di DVD :D Filmnya bagus, dan ga seperti film Hollywood pada umumnya, kisah asmara yang ditonjolkan justru bukan mengenai tokoh utamanya (Capt. Kirk), tapi mengenai seorang Vulcan bernama Spock.

Vulcan digambarkan sebagai spesies humanoid (mirip manusia) yang dikenal mengutamakan logika dan reasoning. Sebenarnya mereka makhluk yang sangat emosional (catatan: "emosi" bukan hanya "marah"), namun karena emosi mereka sering merugikan, sejak kecil mereka dilatih untuk "memadamkannya".

Pada dasarnya gw juga mudah terbawa emosi. Wajah gw seperti cermin hati gw. Kalau lagi sedih, kelihatan. Kalau lagi kesal, kelihatan. Jadi kalau sedang jalan sama cewek dan wajah gw terlihat ceria berarti gw sedang senang banget :)

Ga hanya itu. Suasana hati gw juga berpengaruh terhadap kinerja gw. Baru-baru ini gw ditanya, "Tumben sekarang lo rajin nulis blog. Ada apa nih?" Hoho, jelas ada udang dibalik batu :)

Sayangnya kisah cinta gw kebanyakan ga berjalan baik. Gw agak mudah cemburu. Akibatnya kinerja gw ikut-ikutan "so-so". Saat ini, alternatif yang gw pilih adalah mencintai bidadari. Gw ga bisa memiliki bidadari, sehingga ga (bisa) cemburu. Dan seorang bidadari selalu menjaga hati gw. Oh ya, bidadari itu nyata lho ;-)

Mungkin, pada akhirnya, gw akan menemukan solusi terbaik untuk masalah ini. Mungkin gw bisa seperti Vulcan yang melatih emosi lewat meditasi. Tapi sementara itu, bercumbu dengan bidadari adalah pilihan yang produktif, mutual dan menyenangkan :)

Friday, October 30, 2009

Keluar dari zona aman

Di status Facebook gw pernah menulis bahwa Stardust adalah salah satu film favorit gw. Selain Stardust, gw juga suka Jumper, trilogi Bourne dan trilogi Lord of The Rings. Apa yang menjadikan mereka favorit gw? Mereka film petualangan. Tapi lebih dari itu, mereka mengajarkan gw untuk berani keluar dari zona aman untuk meraih sukses.

Keluar dari zona aman. Kadang istilah ini harus diartikan secara harafiah: keluar dari tempat kita biasa tinggal. Gw pernah baca di suatu buku, "Bagaimana cara menjadi sukses? Pergilah merantau."

Semua presiden kita bukan orang Jakarta namun mereka bekerja di Jakarta. Mantan Gubernur Sutiyoso pun ga lahir di Jakarta. Kedua orang tua gw bukan orang Jakarta, namun mereka bisa membeli rumah setelah bekerja di Jakarta. Gw yakin banyak pembaca blog gw yang orang tuanya ga dari Jakarta, tapi bekerja di Jakarta. Kebanyakan menjadi sukses, paling ga lebih baik dibanding kondisi sebelumnya. Lalu kemana orang-orang kelahiran Jakarta seperti gw harus pergi agar sukses?

Waktu kecil gw bercita-cita menjadi astronot, gw ingin menjelajahi alam semesta. Saat sekolah gw ingin menjadi diplomat, gw ingin menjelajahi dunia. Eh kok kuliahnya jurusan IT, akhirnya mentok menjelajahi kompleks perumahan :) Memang cinta (terhadap komputer) membutakan segalanya :D

Gw ingin seperti Tristan Thorn dalam Stardust yang mengelilingi dunia dan kembali sukses. Awalnya memang "terpaksa", tapi ujung-ujungnya membahagiakan. Bertemu banyak orang, mendapat banyak pengalaman... dan menemukan cinta? Mungkin yang terakhir ga perlu. Gw masih memilih cewek sebangsa untuk urusan itu. Mungkin seseorang seperti 7 di film 9 :)


Wednesday, October 28, 2009

Hari Pemuda. Lalu?

Apa saja aktivitasmu di Hari Pemuda ini? Kalau gw, bangun kesiangan, mampir ke website bokep, membantu teman menyusun skripsi, melanjutkan coding sebuah project kecil, membalas beberapa email dan mengirim invoice. Yeah, so lame. Semoga aktivitas kalian lebih baik.

Gw membayangkan, 81 tahun yang lalu pemuda-pemudi sebaya gw sibuk mengadakan rapat akbar. Mereka dengan semangat mengumandangkan Sumpah Pemuda. Sementara disini gw bingung apakah Sumpah Pocong masih diputar di bioskop.

Nasionalisme. Kata yang usang. Menjadi usang karena banyak orang yang skeptis terhadap negeri ini. Menjadi semakin usang pula karena mereka yang diskeptisi (halo pejabat!) pura-pura ga sadar dirinya diskeptisi.

Ambil contoh kasus KPK. Kalau mau jujur, mayoritas penduduk Indonesia mendukung banget keberadaan dan operasi lembaga negara itu. Sisanya yang ga mendukung karena ga peduli, ga tau atau familinya (atau dia sendiri!) beresiko dijaring KPK. Kalau semua manusia baik mendukung pemusnahan korupsi dari negeri tercinta ini, mengapa membiarkan KPK dijadikan bual-bualan? Mungkin karena ga semua manusia baik :)

Awalnya gw sangat antusias mengikuti sepak terjang KPK. Setiap membaca KOMPAS, pasti gw cari kisah KPK yang menangkap anu dan anu. Mirip film action Hollywood. Tapi sekarang? Film Bollywood jadul yang orang-orangnya item dan berbulu aja masih lebih enak dilihat.

To be honest, my faith for a better nation is starting to diminish. Gw ga tau harus percaya siapa lagi dalam perang David melawan Goliath ini. I'm skeptical. Dan biasanya lama-lama akan muncul ignorance.

Hmm.. tapi gw akan membiarkan sebuah lilin kecil menyala di sudut hati gw. Just in case. Berharap baik boleh kan? :)

Cowok harus tau jalan

Semua orang yang kenal gw dengan baik pasti tau gw orang rumahan. "Ngapain keluar kalau bisa pacaran di rumah?" "Ngapain kerja kantoran kalau bisa kerja di rumah?" "Ngapain ke toko buku kalau ada Google (yang bisa dibuka dari rumah)?"

Bahkan kalau terpaksa keluar, gw lebih memilih naik kendaraan umum. Ga perlu merayu mama untuk pinjam mobil, ga perlu keluar seratus ribu untuk bensin, bisa tidur pula! Sikap gw tentu membuat cewek agak ilfil saat dating sama gw. Entah kenapa mereka lebih memilih diantar-jemput, padahal biasanya juga bisa pergi sendiri (entah dengan kendaraan umum atau kendaraan pribadi)! Dasar cewek.

Untungnya gw agak autis. Kalo mereka ogah pergi ya wis. Jadi bisa santai dirumah kan :D Tapi kadang gw benar-benar harus pergi bawa kendaraan. Dan saat itu biasanya gw kelabakan: gw ga hapal jalan dan ga pakai kacamata sehingga marka jalan sering ga kelihatan!

Gw pernah nunggu lampu merah hampir sepuluh menit, dan baru sadar ternyata memang ga boleh belok (tulisannya ga terbaca). Gw juga sering nelpon rumah/teman hanya untuk bertanya, "Depan gw ada belokan itu kemana ya?" Paling bodohnya, gw pernah berhenti di tengah jalan bypass karena ragu-ragu, "Yang masuk tol sebelah kiri atau kanan ya?"

Tapi yang membuat gw kapok adalah kejadian hari ini. Pulang dari London School gw membawa mobil dengan indikator bensin sudah ke E (Empty). Karena saat itu Three-in-One, gw harus lewat rute Karet-Casablanca untuk ke Bekasi. Guess what, ternyata ga ada pom bensin selama di jalan! Terpaksa gw matiin AC, padahal lumayan macet. Keringetan, deg-degan takut mogok. Benar-benar Fear Factor (dan bodoh). Untungnya jauuuh kemudian di Cipinang ada pom bensin. Selesai isi bensin gw langsung setel AC paling dingin sambil nyanyi-nyanyi (setelah itu gw kebelet pipis karena kedinginan).

Ternyata kata teman gw, pom bensinnya sebenarnya ada, tapi harus keluar rute sedikit. Coba kalau gw tau jalan, ga perlu konyol seperti tadi.

Pesan moral: Kalau melihat gw naik mobil dan ga pakai kacamata, jangan dekat-dekat.